Monday, 19 September 2016

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 3 Chapter 87 Part 2 Bahasa Indonesia


Translator: Exicore
Proofreader: Ise-kun

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Volume 3 Chapter 87 Part 2: Itadakimasu!

Crusch menggemeretakkan gigi-giginya, menahan rasa sakit yang ia terima.

Rem tetap mengawasi setiap pergerakan dari pria itu.

Dia tidak punya pertahanan apapun yang mampu menahan serangan pria itu. Saat ada tanda-tanda bahwa pria itu akan menyerang... menghindar dengan Crusch adalah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan.

Mereka kemudian menyadari sesuatu yang mengerikan sedang terjadi – untuk suatu alasan tertentu Crusch dan Rem sendirian – Mengapa tidak ada yang datang untuk menolong mereka? Di saat yang kritis seperti ini, saat Tuan mereka sedang terluka parah, para ksatria yang bahkan tidak ketakutan di hadapan Hakugei, mengapa–

“Ah sial... Aku terus makan dan makan tetapi itu masih belum cukup! Dan karena itulah, kita terus hidup! Memakan, mengunyah, menggigit, merobek, menghisap! MEMINUM DENGAN RAKUS! MEMAKAN DENGAN RAKUS! AH–AKU MASIH BELUM PUAS!” (Seorang Pemuda)

Tiba-tiba terdengar suara nyaring seorang pemuda yang memekakan telinga datang dari belakang.

Sama seperti pria yang sebelumnya, suara pemuda itu membuat tulang belakang Rem terasa dingin. Tubuhnya menjadi kaku, Rem kemudian berbalik untuk melihat pemuda itu. Pemuda itu berdiri diantara beberapa gerobak yang kosong, dari kepala hingga kakinya ditutupi oleh darah.

Rambutnya panjang dan berwarna coklat kehitaman, rambut itu sepanjang lututnya, tubuhnya pendek, tingginya hampir sama dengan Rem, dan mungkin 2 atau 3 tahun lebih muda– mungkin tidak lebih tua dari anak-anak yan ada di desa di dekat rumah mewah yang dulunya ia tinggali.

Dibalik rambutnya, hanya ada kain lusuh, tipis yang ditutupi oleh darah. Setiap inci dari kulitnya ditutupi oleh darah.

Tentu saja semua darah itu bukanlah miliknya. Darah itu berasal dari para ksatria yang ada dibawah kakinya.

Saat Crusch dan Rem sedang bertarung dengan pria yang ada di depan mereka, para ksatria menghadapi musuh yang ada dibelakang mereka. Pada akhirnya, sebelum Rem bisa mengetahui bahwa mereka sedang bertarung, pertarungan itu sudah selesai.

“Siapa, kau...” (Rem)

Suaranya gemetar, Rem, yang memegang Crusch di tangannya, mundur hingga kedua musuh itu bisa di lihat. Darah dari pundak Crusch telah mewarnai jalan yang mereka lewati dengan warna merah. Kemudian udara menjadi dingin, seakan-akan mengejek kelemahan mereka, ketakutan mereka.

Mendengar pertanyaan itu, pria dan pemuda itu saling bertatapan.

Seakan-akan telah direncanakan, mereka mengangguk setuju pada masing-masing pihak. Kemudian dengan senyum gila yang sama karena kebahagiaan yang diakibatkan oleh kekerasan, mereka berdua meneriakkan nama mereka:

“Uskup Agung Penyihir Pemuja Dosa “Keserakahan”, Regulus Corneus!” (Pria)

“Uskup Agung Penyihir Pemuja Dosa “Kerakusan”, LEY BATENKAITOS!” (Pemuda)


※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

“Kami merasakan bahwa peliharaan kami terbunuh jadi kami datang untuk melihat pelakunya. Tapi kemudian, AH– PANEN YANG LUAR BIASA! Bagus, sangat bagus, benar-benar bagus, hebat, luar biasa, mengerikan, menakjubkan, menganggumkan! SPEKTAKULER! Asmara! Cinta! Benci! Keberanian! Dan KEBAHAGIAAN! Serta KESENGSARAAN! Luar biasa, luar biasa! HAL-HAL ITU PANTAS UNTUK DIMAKAN” (Ley)

Uskup Agung – Penyihir Pemuja Dosa.

Saat kata-kata itu mencapai telinga Rem, Dia terdiam di tempat.

Dengan ekspresi gembira Ley menghentakkan kakinya ke tanah sambil melolong dengan suara yang aneh.

Berputar, seakan menari, tangannya menunjuk ke arah para ksatria yang telah mati,, dan kemudian melihat ke arah mereka dengan rasa haru yang luar biasa.

“Benar-benar LUAR BIASA! Aku sudah lama tidak datang secara pribadi untuk memakan sesuatu, benar-benar sulit untuk menemukan mahkluk dengan tulang belakang akhir-akhir ini. Tapi sekarang, aku merasakan kembali KEPUASAN DARI RASA LAPAR YANG SUDAH LAMA KULUPAKAN!” (Ley)

“Itulah yang tidak kumengerti darimu, Batenkaitos, rasa laparmu bukanlah rasa lapar yang sesungguhnya, dan saat kau makan yang kenyang bahkan bukan dirimu. Mengapa kau tidak bisa puas dengan apa yang kau miliki? Apa yang benar-benar kita miliki adalah apa yang bisa kita pegang dengan kedua tangan kita dan tahan dengan kedua lengan kita. Jika kau menyadari hal itu, kau pasti bisa mengontrol hasratmu, benar bukan?” (Regulus)

“Tidak usah menceramahi ku orang tua, aku tidak suka diceramahi. Aku setuju dengan apa yang kau katakan, tapi aku juga tidak tertarik. Jujur saja, selama aku tidak kelaparan– AKU TIDAK PEDULI DENGAN HAL LAINNYA!” (Ley)

Batenkatos si Dosa “Kerakusan” menunduk dan mulai tertawa dengan gila, namun Regulus si Dosa “Keserakahan” mengangkat bahunya karena tidak tertarik.

Dua Uskup Agung Penyihir Pemuja Dosa muncul di satu tempat secara bersamaan, Rem mulai berpikir.

Dalam hal kekuatan, mengalahkan mereka berdua adalah hal yang mustahil.

Meski pendarahan Crusch telah berhenti, Crusch masih dalam kondisi yang kritis. Para ksatria tidak sanggup bertarung, mereka mungkin sudah mati atau koma.

Untuk menyembuhkan Crusch, Rem sudah mengeluarkan seluruh mananya, ia mungkin saja bertarung bila berubah ke mode iblis dan menyerap mana yang berada disekitarnya. Tapi melawan mereka berdua, adalah hal yang mustahil.

Di satu sisi pertahanan dan serangan yang tidak bercelah dari “Keserakahan”. Dikenal karena kemampuannya untuk menghancurkan sebuah kota sendirian, adalah hal yang mustahil untuk mengukur kekuatan aslinya. Kemudian, adapula “Kerakusan” yang tidak kalah kuatnya. Meskipun kemampuannya masih belum diketahui, dia telah berhasil mengalahkan seluruh tentara yang telah terlatih dalam perang hanya dalam beberapa detik. Apapun yang Rem lakukan, Rem tidak bisa mengharapkan kemenangan saat ia bertarung.

Dia dengan cepat melihat keadaan medan pertempuran, kereta Riger tidak bisa ditemukan dimanapun. Tentara bayaran demihuman ditugaskan untuk mengangkut para prajurit yang terluka– dan kepala dari Hakugei (Paus Putih). Mereka mungkin saja melarikan diri saat terjadi pertempuran dan melarikan diri ke Ibukota dengan kecepatan penuh saat ini. Yang memimpin mereka pasti adalah Wakil Ketua dari Taring Besi – Hetrao – orang yang terkenal dan memilki banyak akal, serta mempunyai logika dan penilaian yang luar biasa.

Jika diberi waktu yang cukup, dia mungkin akan kembali dengan bantuan.

Tapi, meski begitu – mereka mungkin tidak akan datang tepat waktu untuk Rem.

“Kepala Hakugei…” (Rem)

“Eh?” (Regulus)

“Huh?” (Ley)

Rem mengatakannya dengan pelan, kata-kata itu membuat kedua Uskup Agung Penyihir Pemuja Dosa itu kebingungan.

Rem kemudian menahan nafasnya, dia telah menemukan sesuatu untuk mengulur waktu. Sebelum mereka kehilangan ketertarikan mereka.

“Apakah kalian menginginkan paus itu kembali? Karena kami sedang dalam perjalanan mengirim kepalanya ke ibu kota sekarang.” (Rem)

“Kepala? Ah, Jadi dari situ asal bau aneh yang kucium itu. Apa yang terjadi pada kepala mahkluk itu tidaklah penting. Mahkluk itu sudah mati, kau mau apa, mengembalikan kepalanya, baiklah tapi apa yang bisa kau lakukan? Bila kami mau, kami selalu bisa membuat yang baru… Hanya butuh waktu yang sedikit untuk melakukannya.” (Ley)

Setelah berkata seperti itu, Batenkaitos menggemeretakkan leher dan gigi-giginya.

“Dibanding dengan hal yang kalian lakukan…” Kata Batenkaitos dengan nada yang memaksa.

“Dibandingkan dengan Paus yang telah mati kami lebih tertarik kepada ORANG YANG MAMPU MENGAKHIRI HIDUP PAUS ITU. Setelah 400 tahun akhirnya seseorang BERHASIL membunuh mahkluk itu. Meskipun kami memang sudah mengharapkan hal yang luar biasa… AH! HAL INI DILUAR EKSPEKTASI KAMI!” (Ley)

Kepalanya bergerak naik dan turun, rambutnya yang panjang berputar dengan liar, si pemuda itu tertawa sambil mengeluarkan air liur dari mulutnya, disaat yang bersamaan dia tertawa menggunakan suara yang dibuat oleh giginya.

“Cinta! Keberanian! Kebencian! Obsesi! Pencapaian! Semuanya bersatu dan direbus kemudian dihabiskan dalam sekali tegukan! RASA PUAS YANG DIHASILKAN! Apakah ada hal lain di dunia ini yang lebih NIKMAT? Tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak ada tidak ada TIDAK ADA! MINUM DENGAN RAKUS! MAKAN DENGAN RAKUS! Luar biasa! Hatiku! Perutku! KEBAHAGIAANKU dan KEPUASANKU sudah BERGETAR!!” (Ley)

Tindakan dan kata-katanya tidak bisa dimengerti.

Seakan-akan telah kehilangan kendali, Batenkaitos mengeluarkan suara tawa yang nyaring dan menggetarkan udara. Dengan pelan, Rem mengarahkan pendangannya ke Regulus, dan Regulus melambaikan tangannya seakan ingin menyapa.

“Sayangnya, tidak seperti dirinya… Aku disini murni, murni adalah sebuah kebetulan… Aku tidak punya niat apapun dari awal… Tentu saja, kau pasti bertanya apakah aku seperti dia? Orang yang memilki keinginan yang egois dan tidak berarti… Tidak seperti dirinya yang disiksa oleh perutnya yang tidak pernah puas, Aku, sangat berbeda, aku amat, sangat, puas dengan diriku sendiri!” (Regulus)

Regulus membentangkan lengannya membentuk tanda salib, ia berdiri di depan Rem dengan ekspresi yang sangat puas.

Lengan kiri Crusch telah terpotong, namun kedua lengannya masih mampu bengkok dan berputar dengan bebas, hal yang ia lakukan seakan-akan merupakan usaha untuk memamerkan kedua lengan miliknya itu.

“Aku membenci konflik… Apa yang aku inginkan, hanyalah menikmati kehidupan sehari-hari yang tenang dan damai. Aku tidak butuh hal lain selain itu. Diam, diriku yang tidak berubah oleh waktu adalah yang terbaik. Karena tanganku kecil dan tak berdaya, untukku, hanya untukku, hanya untuk melindungi hal kecil yang aku miliki aku harus menggunakan seluruh kekuatan. Serapuh itulah keberadaanku.” (Regulus)

Regulus menekankan hal itu dengan mengepalkan tangannya menjadi tinju. Tangan yang sudah mengambil nyawa yang jumlahnya tidak terhitung lagi, dan juga lengan seorang wanita. Perkataan seperti itu hanyalah omong kosong yang dibesar-besarkan.

Antara Ley, orang gila yang terus menerus tertawa dengan cara yang gila pula, ataupun Regulus, seorang yang selalu merasa benar, mementingkan kepuasan diri sendiri serta suka berkata omong kosong untuk membenarkan diri sendiri, mereka berdua tidak diragukan lagi adalah Uskup Agung Penyihir Pemuja Dosa.

Badai dari amarah yang mendidih membesar dalam hatinya.

Rem membaringkan Crusch, yang masih bernapas dengan lemah, ke tanah datar rerumputan. Dia memaksa kakinya yang gemetaran untuk berdiri. Ditangannya, dia memegang Morning Star miliknya, dan mengeluarkan sisa mana terakhir miliknya, tombak dari es terbentuk mengelilinginya.

Melihat hal itu, Ekspresi Ley dan Regulus berubah.

“Apakah kau tidak mendengarkanku? Apakah kau tidak dengar bahwa aku tidak ingin bertarung? Jika kau bersikap seperti itu, maka, maka itu berarti kau mengabaikan keinginanku… Yang mana berarti kau sudah mengabaikan Hak milikku. Salah satu dari sekian kecil hal yang mana aku diizinkan untuk memilkinya… Propertiku. Diambil dariku – Bagiku, orang yang tidak memiliki banyak keinginan, hal itu… Tidak bisa dimaafkan!” (Regulus)

“Sudah cukup, Uskup Agung Penyihir Pemuja Dosa.” (Rem)

Mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Regulus, Rem mengatakan kalimat itu dengan tekad yang bulat. Rem menggemerincingkan rantai besinya, untuk merespon terhadap Regulus yang kelihatan kecewa.

“Cepat atau lambat, seorang pahlawan akan muncul. Semua rasa sakit dan penderitaan yang telah kalian sebabkan di dunia ini karena keinginan kalian untuk memuaskan diri kalian sendiri, akan diketahui oleh pahlawan itu. Pahlawan ini hanya ada satu, hanya dia seorang, dia juga adalah orang yang teramat sangat Rem cintai” (Rem)

“Oh, seorang pahlawan. Kami akan menantikan saat dimana kami akan bertemu dengan orang itu! Jika kau sangat percaya padanya, Orang itu pasti sangat lezat.” (Ley)

Bertepuk tangan, mencodongkan badannya ke depan, Ley Batenkaitos menjulurkan lidahnya kepada Rem. Matanya bukanlah mata yang melihat ke arah musuhnya, bukan pula mata yang melihat ke arah seorang wanita. Mata itu adalah mata binatang buas yang melihat mangsanya.

Ksatria yang telah kalah di belakang Betankaitos mulai memudar, dan tidak bisa lagi dibedakan.

Keberadaan mereka, posisi mereka, tidak ada satupun yang bisa dimengerti oleh Rem yang sekarang. Kenapa mereka berbaring disana, siapa mereka, dan apa hubungan mereka dengan dirinya sendiri?

Kemampuan yang mirip dengan mimpi buruk dimana keberadaan seseorang akan terhapus karena kabut dari mahkluk yang bernama Hakugei. Sama seperti ciptaan tuannya, “Kerakusan”, pun memiliki kemampuan yang sama.

–“Kepala Pelayan dari Rumah Keluarga Margrave Roswaal L. Mathers, Rem.”

Ingin mempertegas keberadaan dirinya sendiri, Rem menggelengkan kepalanya.

Pada saat ini, nama yang benar-benar ingin dia katakan adalah

“Aku hanyalah seseorang yang mencintai orang yang aku suka. Sahabat sang Pahlawan, orang yang paling aku cintai di dunia ini, tidak perduli apa yang terjadi. Sahabat Natsuki Subaru, Rem.”

Tanduk putih yang murni keluar dari keningnya, gelombang mana yang sangat besar masuk ke dalam tubuhnya dari udara di sekitarnya.

Tubuhnya mendapatkan kekuatan baru, rantai dari senjata Morning Star miliknya menggeliat, dan bergerincing, tombak es yang ada disekitarnya bergetar karena kekuatan baru miliknya.

Rem membuka matanya, merasakan dunia dan keadaan disekitarnya. Di dalam pikirannya, dia melihat wajahnya.

“Persiapkan dirimu, Uskup Agung Penyihir Pemuja Dosa. Pahlawanku akan memberikan hukuman kepadamu!” (Rem)

Mengangkat senjata Morning Star miliknya, yang mana di saat yang bersamaan tombak es disekitarnya juga terbang maju, Tubuh Rem juga ikut bergerak maju dengan cepat.

Seakan membalas, mulut Batenkaitos terbuka lebar, menunjukkan mulut yang dipenuhi oleh taring.

“Benar-benar luar biasa!! – Ah SEMANGAT YANG LUAR BIASA! ITADAKIMASU!”

(Note: Itadakimasu = Selamat makan)

Mereka berdua saling bertubrukan, dan pada saat yang singkat itu Rem berpikir–

Aku harap saat dia menyadari bahwa aku sudah tiada, hal itu setidaknya bisa menyebabkan luka kecil di hatinya.

–Hanya hal itulah yang Rem minta pada saat terakhirnya.



R.I.P Rem... Komen "F" untuk menghormatinya


loading...