Tuesday, 27 September 2016

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 3 Chapter 88 Part 5 Bahasa Indonesia


Translator: Kirz
Editor: Ise-kun

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Volume 3 Chapter 88 Part 5:  Sorezore ni, Karera no Chikai!

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

"Terima kasih untuk sebelumnya tadi, Wilhelm-san" (Subaru)

Setelah jalannya pertemuan rapat selesai, Subaru memanggil Wilhelm diluar Istana Karsten. Menghentikan langkahnya, Wilhelm menoleh kearah Subaru.

"Tidak juga. Saya tidak melakukan apa-apa, Saya malu pada diri saya yang masih memiliki banyak kekurangan ini. Lagipula, Saya tidak dapat membantu anda hari ini." (Wilhelm ojii-san)

"Jangan bilang seperti itu dong, tanpa Wilhelm-san, kita tidak mungkin bisa mengalahkan 'Paus Putih'. Dan selain itu aku juga bisa mempercayakan keselamatan Emilia dan para penduduk desa kepadamu. Aku sangat berterima kasih kepadamu!" (Subaru)

Kalimat tersebut bukanlah mengada-ada, kalimat yang begitu tulus. Tapi, kalimat ini tidak menghilangkan kesuraman yang tampak dari wajah Wilhelm.

Dengan tidak melupakan masa lalu, selalu menanggung rasa sakit orang lain pada dirinya. Pria ini... Tidak kah ia terlalu baik-hati untuk kebaikan dirinya sendiri? Subaru tersenyum dalam pikiran seperti itu.

(TL Note: Subaru meng-anggap Wilhelm terlalu baik, tidak pernah mementingkan kepentingan dirinya sekalipun)

"Meskipun situasi ini masih belum terselesaikan, Apa kau ada rencana untuk mengunjungi makam Istrimu? Meskipun ini bukan hiburan, tapi ya setidaknya kau bisa membalas..." (Subaru)

"—!" (Wilhelm ojii-san)

Terhadap ucapannya Subaru, wajah Wilhelm tiba-tiba tenggelam dalam emosi yang begitu dalam.

Melihat perasaan emosi dan duka cita yang mengarus kencang itu, Subaru tidak tahu harus berbuat apa. Menyadari kebimbangan Subaru, Wilhelm membungkukkan dirinya.

"Subaru-dono, maafkan saya!" (Wilhelm Ojii-san)

"Eeehh tunggu-tunggu, jangan kaya gini dong, kau tidak perlu meminta maaf, Sekarang ini aku yang harusnya berterima kasih kepadamu..." (Subaru)

"Tidak, itu tidak benar. Kalimat yang saya ucapkan saat rapat itu bukan kemauan tulus saya untuk menjadi aliansimu. Itu hanyalah keangkuhan saya, rasa keegoisan saya yang membuat saya mendukung aliansi. Untuk menutupi kesalahan saya, saya benar-benar malu dengan perbuatan saya yang seperti itu." (Wilhelm ojii-san)

Tidak mengerti dengan ucapan Wilhelm, Subaru mengerutkan dahinya.

Melihat hal ini, Wilhelm melepas mantelnya, dan menggulung lengan baju kirinya – memperlihatkan Luka nya yang dibalut di sekitar bahu kirinya itu. Dari kain paling luarnya bisa terlihat, kalau apa yang ada didalam kainnya itu penuh dengan darah.

"Apa itu menyakitkan? Kau harus memperlihatkannya pada Ferris" (Subaru)

"Luka ini tidak dapat di sembuhkan. Ini perbuatan dari Lawan yang mendapat 'Divine Protection' dari 'Dewa Kematian' " (Wilhelm Ojii-san)

"Tidak dapat disembuhkan...?!" (Subaru)

Betapa parahnya luka yang tidak dapat disembuhkan itu, bahkan Subaru tahu tentang ini.

Biasanya, jika suatu pendarahan tidak dapat dihentikan, itu seperti menandakan bahwa waktunya tidak akan lama lagi. Akan tetapi tidak seperti Subaru, yang terlihat penuh dengan kekhawatiran, Wilhelm menggelengkan kepalanya dengan penuh ketenangan.

"Hidup saya tidak dalam bahaya sekarang." (Wilhelm Ojii-san)

"Kok bisa? Lihat luka itu.. Serangan macam apa yang bisa..." (Subaru)

"Saya mendapatkan luka ini bukan hari ini atau kemarin. Luka ini saya dapatkan sudah lama sekali, dan luka ini baru-baru ini terbuka lagi. Tapi, menurut saya saat ini, lukanya terlalu lebar" (Wilhelm Ojii-san)

Mendengarkan ucapan Wilhelm, tubuh kecil Subaru  gemetaran dan seakan-akan merasakan sakit dari luka itu juga. Tidak tahu kenapa dia bisa bereaksi seperti ini, bahkan akar-akar di giginya pun terasa seperti tidak pas dengan rahangnya. (TL Note: Maksudnya rasanya nyeri-nyeri kaya syaraf kejepit itu, tapi ini syaraf gigi xD) Semua ini gara-gara Si 'Pedang Iblis' yang berada dihadapannya, sebuah aura yang tidak biasa, yang dapat membekukan hati.

Melanjutkan dengan tenangnya, dia melanjutkan

"Efek dari 'Divine Protection' itu menjadi tambah kuat, jika pemilik dari 'Divine Protection' itu berada dekat dengan saya. Jika pemilik dari 'Dewa Kematian' itu mendekati saya, luka yang ia buat akan terbuka" (Wilhelm Ojii-san)

"Kalau begitu itu artinya.. Orang yang melukai dirimu waktu dulu.. tidak berada jauh dari sini.." (Subaru)

"Orang yang melukai lengan kiri saya.. adalah Ahli pedang suci generasi sebelumnya." (Wilhelm Ojii-san)

Mendengar ucapan Wilhelm, Nafas Subaru terhenti.

Memandangi kedua mata Wilhelm, Ia melihat sebuah emosi yang berkilauan dari kedua matanya.

"Thearesia van Astrea. Luka yang dibuat oleh istriku telah terbuka lagi. Dalam rangka mencari tahu kenapa hal ini bisa terjadi, saya harus melanjutkan perburuan saya terhadap para Pemuja Penyihir itu.." (Wilhelm Ojii-san)

(TL Note: tadaaa.. :v,, inilah alasannya knapa dia mendukung Subaru :v)


-----------------------------------------------------------------

Tersesat dalam kebingungan, Subaru melangkah menuju ruangan dimana Rem tertidur.
(Note: Kalimat diatas hanya kiasan, ga ngerti artinya? ga usah dipikirkan, saya juga ga ngerti <(") )

Sejak Ia kembali kedalam Istana Crusch, kapanpun kalau ada kesempatan, Ia akan datang untuk berada didekatnya (Rem).

Meskipun Subaru tahu kalau ini tidak akan terjadi, disuatu tempat didalam hatinya, dalam kelemahannya, Subaru berharap Rem setidaknya bisa segera siuman.

Dalam keadaan yang seperti ini, Subaru tidak memiliki keberanian ataupun kesanggupan untuk menemui Emilia. Emilia itu orangnya, mungkin, Ia akan mengerti bagaimanapun juga. Kalau Emilia sekarang berada disisi Subaru, hal ini hanya akan menyakitinya (Emilia). Kecuali bila memang Subaru mencarinya, Emilia akan meluangkan waktunya, meskipun dirinya tidak akan bisa berhenti khawatir.

Jika Emilia disini sekarang, Subaru bisa jadi akan menangis, kalau cuma untuk menghibur kelemahan yang ada dalam hatinya.

(TL Note: Maksudnya meskipun ia ingin menghibur dirinya dengan meminta Emilia bersamanya, tetap saja hatinya akan terasa sakit, karena mnurutnya Ia telah membuat Emilia tambah khawatir)

"Rem.. Meskipun kamu memberitahuku Aku ini kuat, Aku.. tanpa dirimu bersamaku, Aku tidak tau dimana diriku yang kuat ini... Aku bener-bener tidak tau..." (Subaru)

Tidak ada yang berubah sejak ia pergi menuju ruang tengah.

Nafas Rem yang lembut. Jantungnya berdetak. Tapi sejauh ini, tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan darinya. Sekarang ini, hanya Hati Subaru lah yang masih menguatkan hidupnya.

(TL Note: Maksudnya hanya subarulah yang membuatnya ingin tetap hidup,, uuhhh drama bgt :v)

Tetapi,

"—Oh kau.. angin apa yang membuatmu kemari?" (Subaru)

"Aku yang kemari ini, emangnya itu aneh ya? Padahal aku kan punya hubungan dengan gadis ini sebelumnya, ya kan? Terus kalo aku sekali-sekali datang kemari, emangnya itu salah?"

"Darimana keberanian mu itu..." (Subaru)

Dengan lembutnya menyentuh jidat Rem yang tertidur, Subaru melirik ke arahnya — Melayang-layang di udara, seekor kucing abu-abu kecil yang mengibaskan ekor panjangnya, melihat kearah Subaru.

Saat rapat ia sama sekali tidak ada di tempat, namun Ia muncul disini. Menyadari Subaru melirik kepadanya dengan tatapan yang kejam, Puck tampaknya kaget.

"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa aku pernah melakukan yang aneh-aneh sebelumnya?" (Puck)

"...Sekarang ini, kau tidak melakukan apa-apa... Pergi sana, cari Emilia, setidaknya melayang-layang lah di tempat lain" (Subaru)

"Begitu kah? bicaramu itu aneh sekali. Meskipun kebebasanku ini tidak dibatasi, kalau sewaktu-waktu anak itu mendapat kesulitan sementara aku tidak ada.." (Puck)

Sambil melilit-lilit kumisnya, Puck menggerutu dengan santai. Lalu, melayang mendekati wajah Subaru,

"Tapi menurutku lebih baik aku bicara dengan Subaru sekarang" (Puck)

"...Berakting seakan kau tahu segalanya, benar-benar membuatku emosi." (Subaru)

Subaru mengalihkan pandangannya. Meskipun begitu, Puck secara diam-diam menunggunya.

Subaru menghela napas, meskipun Ia tetap menerima semua ini dengan jengkelnya.

"Kau tidak menceritakan Emillia tentang para Pemuja Penyihir.. Apa niatmu sebenarnya?" (Subaru)

"Gak ada niat apa-apa sih, kalau kamu masih bisa tetap hidup tanpa mengetahui hal itu, maka tidak tau pun juga nggak apa-apa 'kan? Kalau Lia bertanya kepadaku, Maka aku akan menjawabnya, tapi dia sama sekali nggak nanya...... Orang-orang yang seperti itu, Kalau kamu menjauhi mereka tidak akan terjadi masalah, ya kan?" (Puck)

"Yap, memang ada waktunya kita lebih baik tidak mengetahui sesuatu. Tapi cara seperti itu sangat tidak cocok untuk masalahnya Emilia ini kan?? Gadis itu pergi keluar dari hutan, untuk mencalonkan diri menjadi Raja, dia sedang berjuang untuk memenangkan 'Pemilihan Raja Selanjutnya'! Gak mungkin bisa menjauhi para pemuja penyihir dengan kondisinya yang seperti itu. — Kau sudah tau tentang ini, tentu saja kau sudah tau." (Subaru)

Memelankan suaranya, Subaru mencari tahu niatnya Puck. Tapi Puck, bergoyang-goyang di udara, dengan gampangnya mengelak pertanyaan Subaru.

"Para Pemuja Penyihir itu muncul.. Aku sudah menduganya juga. Tapi apakah aku akan menyampaikannya ke Lia, Itu lain lagi masalahnya" (Puck)

(TL Note: Maksudnya Puck punya alasan tersendiri knapa dia tidak memberitahu Emilia)

"Biarpun itu akan membahayakannya, dan orang-orang disekitarnya?! Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan ini, tapi kalau ada sesuatu yang menarik perhatian mereka, maka Emilia—!!" (Subaru)

"Begitu ya.. Kamu melakukan semua ini untuk menyelamatkan Lia. Anak ini(Rem) juga.. Ia mengorbankan dirinya untuk menolongnya. Kalau gitu aku benar-benar harus berterima kasih kepada anak ini.." (Puck)

"—-!" (Subaru)

Dengan seketika, Tidak memperdulikan apapun, Subaru memukulnya.

Kepada Roh yang ada di depan matanya, tanpa adanya keragu-raguan, Dia mengayunkan tangannya dengan seluruh kekuatannya. Roh itu, dengan mudahnya menghindari pukulannya, Wajahnya penuh dengan keheranan.

"Kamu ngapain, tiba-tiba kaya gini?" (Puck)

"Jangan berani-beraninya kau menyentuh Rem!! Tidak dengan kedua tanganmu, maupun ucapanmu..." (Subaru)

loading...