Tuesday, 27 September 2016

Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Prologue Bahasa Indonesia


Note: Ini adalah projek sponsor... Katakan thanks dulu dong untuk sponsor-sama >.<

Prologue

Part 1

Di awal musim panas,

Sakamaki Izayoi sedang menikmati aroma awal musim panas di tepi sungai. Mengagumi sang mentari, dia bergumam pada dirinya sendiri "Ah, ketemu dark spotnya. Mungkin matahari emang bener-bener sedang periode glasial."
(TL Note: Dark Spot matahari = http://www.nasa.gov/sites/default/files/728799main_022013-continuum-304_full.jpg )
(TL Note: Periode glasial bisa diliat disini pengertiannya https://id.wikipedia.org/wiki/Periode_glasial )

Motto nya adalah "Surga tidak membuat manusia di atas dirinya" dan dia sepertinya lebih memilih pemanasan global dibandingkan pendinginan global.

Dia tidak tertarik untuk pergi ke sekolah, jadi dia memilih untuk memikirkan cara agar bisa bersenang-senang di tepi sungai sementara masih mengenakan pakaian sekolahnya, tapi apapun yang dia pikirkan akan memalukan kalau sampai dilakukan dan diliat orang lain. Dan kalau yang melihat dia adalah orang yang dia kenal, mereka pasti akan menertawainya.

"Oooh, ada yang seru tuh disana." (Izayoi)

Melepas headphone nya, dia mendengar suara sekelompok berandalan berdiri melingkar mengenakan mantel panjang yang bertuliskan "Fighting Spirit". Di tengah-tengahnya, ada seorang anak laki-laki yang babak belur karena mereka dan dipaksa untuk berlutut dan meminta maaf.

"Hei lihat, nih orang beneran nangis. Menjijikan, kita lempar aja dia ke sungai supaya bersih." (Berandalan A)

"Kalau begitu kita buat dia lompat dengan telanjang bokong, dengan kedua tangan dan kakinya di ikat!" (Berandalan B)

"Hii..." (Si babak belur)

Anak laki-laki itu gemetaran dengan posisi merangkung. Sakamaki Izayoi duduk secara perlahan dan mulai bicara kepada kelompok yang mmasih menendang dan memukul anak laki-laki itu beberapa meter darinya.

"Aaah, aku bosan. Sangat bosan. Kalau aja aku bisa menjual kebosanan ku, itu pasti sudah cukup untuk menghidupiku. Neh, cengungut-cengungut yang disana, gimana kalau kalian memberikan ku beberapa hiburan dan aku akan memberikan kalian hadiah liburan panjang yang indah di rumah sakit?" (Izayoi)

"Ayo cepat, lepaskan pakaian mu dan cepat lompat ke sungai!" (Cengungut A)

"Ayo ikat tangannya sama-sama. Asalkan kakinya ga di ikat, dia tidak akan mati." (Cengungut B)

"Tolong... Tolong aku... Tolong aku..." (Si babak belur)

Tidak ada tanggapan dari kata-katanya Izayoi. Memang sudah sewajarnya.

Dia tidak berteriak pada mereka, dan hanya bicara seakan-akan kepada seseorang disampingnya. Tidak mungkin kata-katanya bisa sampai ke mereka yang sedang asik dengan urusannya sendiri. Karena pukulan yang dia terima, wajah anak laki-laki itu pun sedikit sulit dikenali. Dia dipenuhi oleh kotoran, air mata, dan ingusnya.

"............"

Sakamaki Izayoi berdiri tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Dia mengambil beberapa batu seukuran telapak tangan dari tanah dan mulai melemparinya ke mereka sembari berteriak, "Ijinkan aku ikut bersenang-senang juga!"

Dampak dari batu yang dilempar tersebut menghempaskan seluruh tepi sungai. Itu bukanlah kiasan juga tidak memerlukan yang namanya koreksi.

Tepat seperti yang di deskripsikan, batu tersebut dilempar dengan kecepatan kosmik ketiga, dan dengan suara gemuruh dan debu awan besar, menghempaskan para berandalan, anak laki-laki itu, dan hal lainnya yang ada di tepi sungai tersebut.
(TL Note: Kecepatan kosmik ketiga adalah kecepatan minimum yang harus diberikan pada benda relatif terhadap permukaan bumi untuk keluar dari sistem tata surya.)

"Arghh!" (Cengungut A)

"It-itu Sakamaki Izayoi! Semuanya, cepat lari!" (Cengungut B)

"To-tolong..." (Si babak belur)

"Tak akan kubuiarkan kalian lari!" (Izayoi)

"Batu-batu tersebut terus dilempar, bersamaan dengan suara gelak tawa, dan meninggalkan lubang-lubang akibat batu-batu tersebut yang seakan seperti terjadi pengeboman. Baik dari para berandalan maupun pria yang sedang dibully itu melarikan diri ketakutan.

Sekedar memastikan, Sakamaki Izayoi tidak melempar batu-batu tersebut untuk menyelamatkan pria itu.

"Menghancurkan yang kuat, menghancurkan yang lemah" juga merupakan salah satu motto nya.

"Haha! Payah, dasar payah! Apa "Fighting Spirit" yang ada dibelakang mantel kalian itu cuma sekedar kata saja?" (Izayoi)

Sakamaki Izayoi tertawa dengan memegang perutnya ketika melihat mereka melarikan diri. Dia terus tertawa dengan menginjak-injak kakinya ke tanah.

Satu-satunya suara yang tersisa ditempat itu hanyalah suara tawa nya saja. Tidak ada orang lain disekitar, dan ketika Izayoi berhenti tertawa, tempat itupun menjadi sunyi.

Tidak ada tanda akan adanya seseorang di tepi sungai itu. Pria dan wanita seumurannya mungkin sedang menikmati makan siang di saat seperti ini.

Sakamaki Izayoi perlahan berdiri.

".......Membosankan."

Kata dia, yang menggambarkan perasaan terdalamnya. Dia hanya mendapatkan kejadian dimana berandalan-berandalan dan pria itu melarikan diri dengan ironi, dia sama sekali tidak mendapatkan sesuatu yang bebar-benar merupakan kesenangan. Dia tertawa keras, tapi hanya kelihatannya saja. Sangat jauh dari kata bersenang-senang. Sakamaki Izayoi melepaskan perasaan hampanya dengan melepas napas dalam-dalam dan kembali ke pinggir sungai.

"....Hm?"

Woosh. Ketika dia mulai berjalan, angin berhembus kencang dari samping. Sebuah amplop surat melayang-layang di tengah angin tersebut - setelah melayang dengan lintasan yang sangat tidak wajar - surat tersebut pun masuk kedalam tas nya Izayoi dengan sendirinya, seakan seperti benang yang masuk ke lubang jarum.

"...Apa-apaan tadi itu?" (Izayoi)

Dia mengambil surat misterius itu.

Nama penerimanya ditulis rapi di amplop tersebut: "Untuk Sakamaki Izayoi-don."

Part 2

Taman itu dipenuhi oleh bisingnya suara jangkrik.

"Sudah cukup. Diam!" Kudou Asuka sedang berteriak di taman.

Jangkrik-jangkrik pun berhenti berkicau setelah itu, seakan mereka telah dilatih untuk itu sebelumnya. Sepertinya kata-kata Ojou-sama dari keluarga Kudou lebih penting dari kegiatan-kegiatan mereka.
(TL Note: Ojou-sama = Nyonya muda)

Tanpa merasa aneh terhadap kejadian itu, Asuka berjalan kembali dengan sikap angkuh di koridor mansion yang terjaga dengan baik dengan langkah cepat. Dia heran kenapa, meskipun tempat ini dimiliki oleh salah satu dari lima konglomerat terkaya di Jepang, tapi sama sekali tidak ada pendingin ruangan di koridor.

Dia langsung masuk ke kamarnya, menyeka keringat yang berkilauan dari rambutnya. Dia memastikan untuk mengunci pintunya dan melemparkan dirinya ke atas kasur, dan menyebabkan kasurnya bergoyang karena itu. Tapi sepertinya dia masih belum puas dengan hanya itu saja, dan dia mementalkan dirinya sekali lagi.

"Jadi keluarga ku sedang menghadiri pertemuan yang membahas mengenai pembubaran konglomerat? Aku tidak menyangka mereka akan memanggilku ke pojok terjauh Jepang hanya untuk alasan itu."

Untuk mengakhiri pertemuan yang terjalin selama sebulan, dia pun diseret ke hadapan kepala keluarga. Sang kepala keluarga sedang terbaring di atas kasur karena sakit, tapi suara wibawanya masih ditakuti dan dihormati.

Asuka tak bisa berkata apa-apa ketika keluarganya meminta "Tolong, lakukan sesuatu terhadapnya!", meminta ke seorang gadis, yang masih berumur 15 tahun, untuk mengatasi situasi.

Kudou Asuka yang masih terkejut pergi ke mansion kepala keluarga dan bicara kepadanya dengan satu kalimat pendek.

"Berhenti melawan dan ikuti saja pembubaran konglomeratnya!" (Asuka)

"Dimengerti." (Kepala keluarga)

Dia setuju tanpa ada rasa keberatan sama sekali. Ini bahkan tidak sampai 10 detik sudah tidak dapat disebut sebagai pertemuan lagi dengan keadaan yang seperti itu.

Tanpa menunggu untuk mengetahui apakah itu memang keputusan yang benar, dia langsung pergi keluar dari mansion. Bahkan para kerabat yang mengharapkan hasil akhir ini pun meragukan penglihatan dan pendengaran mereka.

Apa yang para kerabat simpulkan adalah, semua yang dikatakan oleh Ojou-sama dalam keluarga Kudou akan terjadi tanpa pengecualian. Bukan berarti ada hukum atau aturan didalamnya - apapun yang dia katakan akan terjadi, seperti itulah. Mereka mengklaim kalau itu adalah sugesti yang kuat, hipnotis, atau bahkan pencucian otak, tapi Asuka membantah semua itu. Dia hanya mengatakan apa yang dia pikirkan keras-keras.

Tidak ada satupun yang dapat melawan aliran kemasyarakatan saat ini, jadi tidak ada cara lain selain membubarkan konglomerat. Dia mencoba meyakinkan diri sendiri dengan pikiran-pikiran itu.

"...Menggelikan, bahkan dia bisa dengan mudah melawan orang tua itu. Sungguh, hal itu benar-benar menggelikan." (Seseorang)

Dia menggenggam sprei kasur dengan erat, berbaring dengan wajah menghadap ke kasur. Tadi itulah yang benar-benar telah mengganggunya. Hubungan yang dimana jawaban satu-satunya yang bisa kau dengar hanyalah "Iya" benar-benar membosankan dan tak ada tantangannya. Singkatnya, dia hanya bisa membuat hubungan yang tidak berarti, dan Kudou Asuka pun menjadi bosan karena hubungan itu.

"...Panasnya. Kok bisa lembab gini sih? Gaun ini pasti penyebabnya, haruskah aku membiarkan ikat rambutnya dan melepas yang lainnya?" (Asuka)

Asuka melihat-lihat sekitar ruangan dan tiba-tiba pandangannya terpaku pada amplop surat mencurigakan yang ada di atas meja.

Apa yang tertulis di amplop: "Kepada Kudou Asuka-dono."

"....?"

Asuka memiringkan kepalanya.

Dia langsung melihat-lihat ke semua yang memungkinkan seseorang masuk, pintu, jendela, dan rute pelarian darurat rahasia, tapi semuanya terkunci dan sama sekali tidak ada tanda seseorang masuk melaluinya. Di saat itu, seseorang mengetok pintu, dan suara maid dapat terdengar.

"Asuka Ojou-sama, saya membawakan anda minuman-" (Maid)

"Neh antta, apa ada seseorang yang masuk ke ruangan ku ketika aku pergi?" (Asuka)
(TL Note: Neh antta, bisa berarti "Hei kamu" atau englishnya "Hei you there", karena rasanya aneh klo diterjemahkan, jadi dibiarin gitu aja <(") )

"? Hanya Ojou-sama yang mempunyai kunci ke ruangan ini, selain itu tidak ada yang bisa memasukinya." (Maid)

"Iya... Itu benar. Tidak apa. Kau bisa pergi sekarang." (Asuka)

Maid itu menunduk dengan sopan kemudian pergi dari ruangan. Kudou Asuka memeriksa ulang semua kemungkinan seseorang masuknya, tapi tidak ada tanda-tanda salah satunya telah digunakan. Yang berarti itu seharusnya mustahil untuk meninggalkan amplop di ruangan ini.

"....Fufu. Aku tidak tau siapa kau, tapi 'surat kamar tertutup' dibandingkan 'pembunuhan ruang tertutup'... Aku suka cara mu itu." (Asuka)

Dia bahkan lupa dengan cuaca panasnya, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyuman muncul di wajahnya. Dia dengan senang membuka segel amplop itu.

Part 3

Musim gugur telah berakhir dan daun momiji pun mulai berjatuhan. Kasukabe Yo sedang bersiap-siap di ruangannya untuk pergi tamasya sebelum daun-daun yang berguguran kehilangan warnanya. Dia sedang bersiap-siap untuk mengenakan kimono-nya yang dimana kemudian seekor kucing belacu berlari menuju kakinya.

"A-ada hal yang sangat aneh terjadi Yo-ojou-chan! Sebuah surat dengan nama penerima anda jatuh dari langit!"

"...Dari langit?" (Yo)

Sekedar informasi, kucing itu hanyalah kucing biasa. Yang spesial bukanlah kucingnya, tapi Kasukabe Yo. Kucing belacu itu pun memberikan surat itu ke tangannya sembari mencoba memanjat ke pundaknya.

"Jangan salah paham, Ojou! Aku sama sekali nggak bercanda! Surat ini benar-benar jatuh dari langit!"

Suara kucing belacu itu terdengar seakan membuat alasan, jadi dia mengelus kepalanya dengan lembut dan mengangkatnya tinggi-tinggi sembari menunjukan sedikit senyuman.

"Aku percaya pada mu, kok." Dia mengatakannya dengan senyuman hangat.

Nada suaranya tenang dan menyejukan. Kucing itu pun perlahan tenang untuk sementara, namun menjadi sangat tertarik dengan isi amplop surat itu, jadi dia pun mulai memasang wajah memelas padanya.

"Ojou, tolong dibuka dong cepat, Aku bisa kehilangan bulu-bulu ku nih karna kelamaan menunggu."

"Sebentar ya." (Yo)

Kasukabe Yo kemudian menurunkan kucing dan suratnya kebawah dan melanjutkan mengenakan kimono nya. Tapi kucing yang penasaran itu pun tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Sekali lagi, kucing itu pun mencoba memanjat melalui bajunya dengan cakarnya yang terbuka dan berkata, "Ojou~! Ayo dibaca dong~! Make kimono nya nanti aja, sehabis ini-"

Ripp! Suara yang tidak enak didengar seperti suara baju sobek pun terdengar. Dia melihat ke bawah, takut dengan apa yang mungkin dia lihat itu, dan kemudian mendapati kimono nya terdapat sobekan yang cukup besar.

".........."

"O-Ojou...!"

Kasukabe Yo hanya berdiri disana terpukul oleh kesedihan. Merupakan kimono yang berwarna merah dengan lengan panjang dan corak daun momiji didalamnya. Kimono ini adalah kesukaannya. Kimono ini merupakan penggunaan musiman, jadi kalau dia tidak dapat mengenakannya kali ini, dia harus menunggu sampai tahun depan untuk bisa mengenakannya lagi. Dilihat dari sobekannya, akan butuh waktu lama untuk memperbaikinya.

...Sangat disayangkan sekali. Dia tidak tahu bagaimana cara untuk mengekspresikannya.

"O-Ojou... Aku cuma- aku cuma...!"

"Tidak apa, tak usah dipikirkan. Mau bagaimana lagi." Dia mengeluarkan helaan napas dan tersenyum yang ntah kenapa pahit bagi kucing belacu itu.

Kasukabe Yo kemudian berganti dengan pakaian normalnya, jaket berlengan panjang dan celana pendek. Kemudian dia melepas pin rambutnya dan membuka amplop surat yang dibawa kucing belacu itu.

"Apa ini?"

"......"

Setelah membuka amplop itu, dia menatap pada surat tersebut dalam waktu yang cukup lama. Kucing yang penasaran itu naik ke pundaknya dan mulai membaca isinya.

Part 4

"Anak-anak dengan bakat yang luar biasa yang dipenuhi dengan kesedihan, Aku katakan pada kalian! Jika kalian ingin menguji Gift kalian, maka tinggalkanlah teman kalian, barang-barang milik kalian, dunia kalian, dan datanglah ke Little Garden kami."

Part 5

"Ap-?" (Asuka)

"Kya-!" (Yo)

Pemandangan sekitar pun berubah tanpa adanya transisi. Tiba-tiba, mereka mendapati dirinya ada di ketinggian 4000 meter. Meskipun sembari menderita dari tekanan karena terjatuh, mereka memiliki satu pikiran mengenai situasi yang mereka alami dan juga dengan kata-kata yang sebagian besar sama.

"Dimana ini?!"

Suatu pemandangan yang benar-benar asing ada di depan mata mereka. Terjatuh dengan cukup tajam seakan mempersembahkan sebuah akhir dunia. Dibawah mereka terdapat kota yang tak diketahui sepenuhnya tertutup, begitu besar sehingga membingungkan perhitungan skala mereka.

Dunia di hadapan mereka benar-benar sebuah dunia lain.

loading...