Wednesday, 14 September 2016

Katahane no Riku Chapter 2 Bahasa Indonesia


Translator: Exicore
Proofreader: Ise-kun

Chapter 2: Kontrak

Riku Barusak kurang lebih selalu percaya bahwa dirinya adalah mahkluk yang spesial.

Ia percaya akan hal itu sejak hari dimana ia dilahirkan.

Itu semua karena saat ia lahir, ia memiliki pengetahuan. Itu bukanlah kejadian dimana seseorang akan terlahir dan tidak tahu apapun, tapi lebih kepada, Riku yang memiliki ingatan yang tidak seharusnya pernah ia rasakan dan ketahui.

Dengan kata lain, dia memiliki ingatan tentang kehidupannya yang sebelumnya, atau sesuatu yang seperti itu.

Dalam kehidupan Riku yang sebelumnya, ia dulunya merupakan gadis yang biasa-biasa saja. Dulunya ia punya beberapa masalah dengan nilai sekolahnya, disiksa oleh teman sekelasnya, lari dari kenyataan menuju budaya otaku, dan sebelum ditabrak oleh sebuah truk, Riku dulunya menjalani kehidupan sehari-hari yang biasa-biasa saja.

Tapi Riku tidak suka dengan ingatan dari dunianya yang sebelumnya. Sebenarnya, ia membencinya.

Memiliki ingatan seseorang yang tidak dikenal di dalam kepala itu menjijikkan, meskipun tidak ada yang mampu merubah fakta tersebut. Oleh karena itu, Riku tidak pernah peduli terhadap ingatan dari kehidupannya yang sebelumnya. Pengetahuan tentang benda seperti TV atau mobil memang hal yang bagus untuk dimiliki, tapi ia tetap tidak dapat mengingat sebagian besar dari ingatannya yang berguna. Jika dia tidak bisa mengingat hal semacam itu, maka hal itu tidak ada gunanya.

Tapi ada satu hal yang membuatnya terus memperhatikannya. Itu adalah sebuah ingatan tentang game tertentu.

Ternyata, genre dari game ini adalah gal game...

[TL Note: Gal game atau GalGame atau lebih sering di sebut Bishōjo game merupakan sub-genre dari game kencan yang berfokus kepada interaksi terhadap gadis cantik.]

Game itu tentang pemeran utama yang merupakan pengguna kekuatan pemusnah iblis yang mana dengan teman terdekatnya akan melawan ras iblis yang berusaha melepaskan raja mereka. Meski begitu, tujuan utama dari game tersebut bukanlah membunuh ras iblis, tapi lebih kepada, membuat karakter utamanya menikmati hidupnya dengan cinta yang bermekaran dari gadis-gadis cantik. Karakter utama dari game tersebut, adalah, adiknya yang berusia tiga tahun Rook.

Dalam game, Riku diperkenalkan sebagai anggota harem yang pertama. Dalam rentang waktu saat game dimulai, Riku adalah kakak perempuan kedua yang tidak berbakat. Tentang latar belakangnya, di saat Riku masih kecil, nyawanya diselamatkan oleh Rook, dan karena itu, ia mulai menjadi sangat percaya kepada Rook. Atau begitulah semua hal seharusnya berjalan

[TL Note: Harem berasal dari bahasa arab, merupakan sebutan untuk ruangan yang dikhusukan kepada wanita dan sangat terlarang bagi siapapun untuk masuk kecuali memiliki hubungan yang dekat dengan wanita yang ada di dalam.]

“Karena tempatku adalah berada disamping Rook.”

Saat mengatakan itu dan tertawa, ia akan mengajukan diri untuk merawat Rook secara pribadi bersama dengan pelayan yang memiliki payudara yang besar.

Kuat dalam pekerjaan fisik, dalam misi permulaan, seseorang harus menggunakan kekuatan Riku untuk memindahkan pot yang besar dan menemukan pintu rahasia. Tapi setelah minggu kedua, kau akan mendapatkan perlengkapan yang membuat anggota kelompok yang lain juga mampu menggerakkan pot tersebut. Pada dasarnya, itu berarti bahkan walau Riku tidak disana, ceritanya akan mampu terus berjalan. Faktanya, selain dari misi untuk memindahkan pot, dia tidak punya terlalu banyak kegunaan.

Meski begitu, setelah menaklukan hati adik perempuannya raja iblis, yang memimpin pasukan iblis, di adegan saat dunia menjadi damai, tepat di sudut, ia muncul. Sejauh itu, Riku adalah karakter yang terus hidup sampai akhir cerita.

Meskpun ia tidak berguna.

Sementara Riku membenci ingatan kehidupannya yang lama, ia masih tetap tertarik dengan ingatan tentang game ini. Dunia damai sekarang. Para iblis beraktivitas, tapi tidak pernah ada gerakan yang menyebabkan kekacauan besar. Meski begitu, tanpa diragukan lagi, sebuah perang besar akan dimulai sebentar lagi. Karena itulah meningkatkan kekuatannya sendiri itu harus.

Namun, tidak perduli apa yang ia lakukan, Rku tidak mampu menggunakan teknik spiritualist. Tidak peduli seberapa banyak latihan yang ia lakukan, ia hanya menjadi semakin kuat secara fisik. Bila terus seperti itu, dia tidak akan berguna dalam hal apapun.

Tapi meski begitu, dia tahu bahwa dia akan selamat di akhir.

“Bukankah ini semua karena kau menjalani hidup dengan santainya sehingga kau menjadi teledor?”

Suara seseorang masuk ke telinganya.

Ya, Riku sudah menjadi seseorang yang teledor.

Dia tidaklah teledor dalam latihannya dan sudah siap berjuang keras untuk menghadapinya. Saat ini, semua yang ia punya murni hanya kekuatan otot, tapi mungkin setelah menjadi dewasa, walau mungkin tidak akan cukup untuk menjadi spiritualist yang hebat, itu setidaknya sudah cukup agar ia tetap bertahan di rumah keluarga Barusak. Tapi karena ingatan kehidupannya yang lama, dia telah menjadi teledor. Riku berpikir bahwa ia seharusnya tetap bisa tinggal disana dengan aman dengan tetap bersama Rook.

Ya, berpikir seperti itu bukanlah hal yang baik.

“Tentu saja. Karena hal itu terjadi... Karena hal itu terjadi maka semua ini tidaklah baik.”

Setelah dibawa ke tepi pantai, ia akhirnya mengerti.

Karena ia punya ingatan itu, dirinya yang dengan bodohnya terbawa suasana dan menjadi terlalu percaya diri patut dibenci. Dengan ingatannya tentang kehidupannya di masa lalu sebagai seseorang yang tidak berguna dalam hal apapun, dirinya yang sekarang yang tanpa sadar menjadi lalai sangat menyedihkan.

Tunggu, apakah memang benar kalau itu adalah ingatan dari kehidupannya di masa lalu?

Riku mulai berpikir tentang itu. Itu bukanlah sesuatu seperti ingatan dari kehidupannya yang sebelumnya. Contohnya, itu mungkin hanya sebuah buku sederhana yang ditinggalkan di kamar Riku pada waktu tertentu. Itu hanyalah gumpalan dari informasi yang tidak penting yang mana ia tidak punya hubungan secara langusng sama sekali.

Dengan kata lain, itu hanyalah sesuatu yang lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan Riku Barusak.

Karena sesuatu yang misterius ini, hidupnya sendiri menjadi berantakan.

Riku menancapkan kuku-kukunya ke keningnya dengan kuat. Darah kemudian mengali keluar. Tapi setelah semua itu, rasa sakit setingkat ini tidak penting sama sekali. Perasaan gelap mulai menyebar, memenuhi hati Riku.

Pada saat itulah.

“Benar, kalau begitu, ingatan itu tidak dibutuhkan.”

Pria dengan sepasang sayap hitam mendarat tepat di depan Riku.

Di pantai ini, yang mana seharusnya tidak ada seorangpun, sebuah figur misterius berdiri. Itu adalah pria tampan yang memiliki sepasang sayap hitam, dan ia melihat ke arah Riku. Melihat ke sayap milik pria tersebut, Riku tertawa.

“Apakah kau iblis?

“Bukan, aku adalah shinigami.”

[TL Note: Shinigami, dewa kematian Jepang yang diadaptasi dari budaya barat.]

[Editor Note: Is that ‘Ryuk’?]

Shinigami itu tersenyum lemah. Ditangannya, ia membawa gulungan yang aneh.

Dalam gulungan yang kelihatannya tua, terdapat huruf kecil yang ditulis sangat berdekatan satu sama lain. Riku menyipitkan matanya kemudian membaca huruf tersebut.

“Kontrak tertulis... Satu keinginan dari satu orang akan dikabulkan. Sebagai gantinya, orang tersebut harus memberikan jiwanya... Lelucon macam apa ini?”

“Itu bukanlah lelucon. Aku bisa mengabulkan keinginanmu. Sebagai gantinya, aku ingin mendapatkan sebuah jiwa. Sebenarnya, meski dalam beberapa hal itu adalah jiwamu, jiwa yang aku inginkan adalah jiwa dari kehidupanmu yang sebelumnya yang menginfeksi jiwamu yang asli. Jiwa yang mampu merasuki jiwa lain memiliki ikatan yang kuat dengan dunia... Bila kau membiarkan ku merobeknya, itu akan terasa sangat lezat.”

Shinigami itu menjilat bibirnya.

Lidahnya panjang dan merah yang terlihat kurang lebih seperti ular yang memburu mangsanya. Melihat ekspresi menakutkan dan mengerikan dari shinigami itu, Riku sedikit gemetar. Tapi meski begitu, ia menyadari bahwa dia sebenarnya tertarik dengan penawaran shinigami itu.

“Dengan kata lain, bahkan walau kau mengabulkan permintaanku, Aku... Riku Barusak tidak akan benar-benar terpengaruh, benar?”

“Lebih tepatnya, ingatan dari jiwa yang merasuki jiwamu... Yah, itu adalah sesuatu yang kau sebut sebagai ‘ingatan kehidupan sebelumnya’ semuanya terlupakan. Jiwamu sendiri tidakakan menerima konsekuensi apapun. Tentu saja, bahkan tidak di akhirat.”

“Jadi begitu ya.”

Tepat setelah dia mendengar kalimat itu, hatinya sudah memutuskan apa yang akan dia lakukan.

Saat Riku berdiri, ia melihat ke arah shinigami yang sedang berliur. Melihat ini, shinigami itu merasakan tekad Riku. Sementara matanya bersinar, dia mencondongkan badannya ke depan. Dengan suara yang entah bagaimana anehnya itu, dia membujuk Riku.

“Sekarang, katakan. Apakah kau ingin bak mandi yang dibanjiri oleh emas? Atau mungkin paras cantik yang cukup untuk membuat semua orang terdiam saat melihatmu? Mungkin menjatuhkan hukuman kepada seseorang yang merendahkanmu? Ah... Bila kau memberikan kedua jiwamu, aku akan memberikan pelayanan yang istimewa. Aku akan mengabulkan 2 permintaanmu.”

“Tempat.”

Memotong perkataan shinigami, Riku mulai mengatakan keinginannya.

Sembari melihat ke arah shinigami yang mengedipkan matanya dengan dingin karena perkataannya, Riku, dengan perasaan yang datang dari dalam lubuk hatinya, meninggikan suaranya seakan-akan ia akan mendeklarasikan sesuatu.

“Aku ingin tempat dimana aku akan diterima. Tempat dimana kekuatanku akan diterima. Aku ingin mendapat tempat dimana aku bisa tinggal, dan untuk keluarga Barusak yang telah membuangku... aku akan membalaskan dendamku sendiri. Aku akan membuat orang-orang yang menolak kekuatanku merasakan penderitaan yang teramat sangat.”

“Hmm...”

Shinigami terlihat bosan dan menggaruk pipinya sendiri

Dan kemudian, ia memperhatikan setiap bagian dari tubuh Riku mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Tapi kau tak bisa menggunakan kekuatan spiritualist, kau tahu. Kekuatan fisikmu yang luar biasa yang kau miliki sejak lahir membuatmu tidak bisa menggunakan kekuatan spiritual. Jika struktur tubuhmu tidak berubah, maka kau tak akan bisa menggunakan kekuatan spiritual seumur hidupmu. Ah, benar juga! Bagaimana bila kau juga memberikan jiwamu yang lain? Jika kau melakukan itu, aku tidak hanya akan mempersiapkan tempat dimana kau bisa diterima, tapi juga memberikanmu kekuatan spiritual...”

“Aku tidak memerlukannya.”

Kata Riku dengan suara yang jelas.

Berkebalikan dengan tampilannya yang kurus, matanya bersinar karena ambisi.

“Aku punya kekuatan ini. Jadi kenapa kalau aku tidak bisa menggunakan kekuatan spiritual? Aku adalah aku. Aku akan membuat mereka mengerti... Dan aku akan melakukan hal itu menggunakan kekuatanku sendiri!!!”

Riku menunjukkan senyum yang dipenuhi dengan keinginan.

Melihat Riku bertingkah seperti ini, shinigami itu menendang sebuah kerikil karena bosan.

“Apa, itu membosankan. Kau tak bisa mendapatkan kesempatan yang sama dua kali kau tahu?”

“Memangnya aku akan melakukan hal seperti itu karena hal seperti ini. Lagipula, bila aku menjadi terlalu serakah, aku akan berakhir menjadi terlalu percaya diri lagi.”

“Tch... Saat aku sadang berpikir aku akan memakan kedua jiwa milikmu. Yah, sepertinya apa boleh buat.”

Shinigami itu memegang kepalang menggunakan tangannya.

Cahaya kecil yang mirip dengan kunang-kunang mulai mengelilingi Riku. Kakinya mulai terangkat dari tanah dan dia plean-pelan naik ke udara. Tapi meski begitu, dia tidak takut. Ia tidak merubah posisinya dan terus seperti itu.

“Jika kau terus berjalan maju, kau akan menemukan tempat dimana kau akan diterima. Tapi itu hanya terjadi jika kau selamat sampai kesana. Kalau begitu aku akan mengambil bayaranku.”



≡≡≡≡≡≡≡≡

Kota pelayaran Perikka selalu saja sangat ramai.

Pedagang lokal hanya memikirkan keuntungan mereka sendiri, bajak laut yang mengumpulkan harta karun emas dan perak yang hidup dalam kehidupan mewah, tempat pemuas nafsu yang membuat keuntungan dengan memberikan jasa mereka kepada bajak laut yang kaya tadi. Jalanan pusatnya memiliki keindahan yang bisa dibandingkan dengan ibukota, tapi bila seseorang masuk selangkah saja kedalam lokasi tersebut, mereka pasti akan menyadari bau alkohol yang berhembus di udara dan bisa melihat figur dari pelaut yang pingsan karena mabuk bahkan walau hari masih siang.

Riku, yang telah kehilangan segalanya, telah sampai pada kota pelayaran yang seperti ini. Pada saat itu, dia sudah kehilangan ingatan tentang pertukaran yang ia lakukan dengan shinigami dan game itu.

Riku terbangun di pantai seakan-akan tidak ada yang terjadi dan setelah perjuangan yang keras ia akhirnya berhasil mencapai kota ini.

“Atchoo!!Uuu... Dingin sekali...”

Karena ia basah oleh air laut, tentu saja ia merasa kedinginan. Karena tidak ada handuk untuk mengeringkan dirinya sendiri, dia berjalan menuju kota dengan baju yang basah kuyup.

Rambut merah indahnya yang diikat bergerak ke samping kanan dan kiri saat ia berjalan. Tidak ada lagi tanda-tanda bahwa bajunya adalah baju yang indah. Hiasan-hiasannya terlepas dan pakaiannya sangat kotor sehingga terlihat seperti lap kain yang sudah tua. Tidak mungkin ada seorangpun yang akan mengira kalau dia adalah anggota dari keluar Barusak yang terhormat.

Mengingat rumah yang tidak bisa lagi ia datangi, air mata hampir terbentuk di matanya.

“Untuk sekarang aku harus mencari tempat untuk bekerja...”

Saat ini, Riku tidak punya tempat untuk tinggal, ataupun uang.

Bahkan Riku yang baru berusia 7 tahun tahu bahwa dalam situasinya saat ini, ia harus bekerja dan mendapat uang.

Tapi tidak mungkin dunia akan menjadi tempat yang sebaik itu untuk hidup.

“Haa!? Kenapa aku harus mempekerjakan anak kecil nakal dan kotor sepertimu.”’

Dia dengan cepat ditolak.

Riku kemudian dipegang di bagian perut dan dilempar keluar ke jalanan. Dengan suara *bam*, pintu belakang dari toko itu tertutup. Menghisap lendir di hidungnya, dia terhuyung-huyung bangkit. Bersandar ke tembok dengan punggungnya, dia melihat ke arah pintu yang tertutup rapat.

“Memang susah…”

Keluh Riku.

Itu adalah ke sepuluh kalinya dia ditolak.

Hari ini, dia ditolak sepuluh kali, kemarin lima belas kali dan hari sebelumnya, juga lima belas kali.

Sesuatu seperti toko yang mau mempekerjakan anak lemah dan kotor berumur tujuh tahun tidak bisa ditemukan dimanapun. Riku berdiri dengan gemetar dan pergi dari tempat itu, mulai lagi mencari toko yang kelihatannya mau mempekerjakannya.

Perutnya berbunyi. Sejak ia dilempar dari tebing itu, dia tidak pernah memakan apapun. Jika dia tidak bisa menemukan sesuatu untuk dimakan disuatu tempat, ia akan mati. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, tapi ia sudah jelas tidak mau mati. Hanya perasaan itu yang ia miliki sekarang.

Sementara ia memegang perutnya yang kelaparan, ia berbelok ke sebuah gang sempit. Pada saat itu, ia merasa seseorang sedang melihatnya. Membalikkan kepalanya, ia melihat kelompok dari orang yang kotor dan mirip dengan bajak laut sedang berkumpul. Sementara mereka menunjukkan senyum yang kotor, mereka berbicara ke satu sama lain seakan-akan ada sesuatu yang menyenangkan terjadi di sekitar.

“Ada anak kecil disana. Mungkin seorang gadis.”

“Ayo jual dia.”

“Tepat ketika aku menginginkan uang untuk membeli minuman.”

“Hei, ia melihat ke arah kita, anak kecil itu.”

Menyadari kalau Riku melihat mereka, mereka memasang ekspresi orang baik. Kemudian, pelan-pelan mendekati Riku.

“Hei, gadis kecil, ada apa? Apa kamu tersesat?”

“Mungkin kau lapar? Mari, om cari’in kamu makanan yang enak untuk dimakan.”

Otot-otot Riku menegang.

Berlawanan dengan suara mereka yang lembut dan wajah mereka yang ramah, mata mereka menunjukkan kegelapan yang tercemar. Cara mereka melihatnya seakan-akan mereka menjilat seluruh tubuhnya lebih menjijikkan dari apapun. Riku berjalan mundur sambil menggelengkan kepalanya.

“Tak ada yang perlu ditakuti, kau tahu?”

“Kemarilah. Ayo ikut sini sama om. Kami akan membawamu ke tempat yang dipenuhi dengan makanan yang enak dan pakaian yang indah.”

“Tempat yang sangat menyenangkan.”

Riku sangat takut hingga ia tidak mampu berkata apapun.

Tapi sangat berbahaya kalau ia tetap disini. Seakan-akan instingnya telah terpancing, ia lari tanpa melihat ke belakang.

“Hei, jangan lari!”

“Berhenti disana!”

“Tangkap dia!”

Dibelakangnya, dia bisa mendengar para pria yang tadi terus mengeluarkan kata umpatan.

Seperti yang diduga, keramahan yang tadi hanyalah tipuan. Riku sekarang dengan bersungguh-sungguh menggerakkan kakinya. Berlari melewati gang, ia bergegas menuju jalan raya yang besar. Sambil dengan cepat mengotori lantai jalanan itu yang mana lempengannya diwarnai dengan indah, untuk sekarang dia akan lari.

Jika seseorang berbicara tentang jalanan yang besar, itu akan menjadi tempat dimana ada banyak orang yang masuk dan keluar.

Diantara orang-orang yang berpakaian bersih, ada orang-orang yang menghindari Riku, melihatnya sebagai sesuatu yang buruk, tapi kebanyakan dari mereka tidak peduli tentang seorang anak yatim piatu yang kotor dan terus berjalan.

Riku mendorong maju dan berjalan menembus orang-orang yang begitu banyak, memutuskan kalau lebih penting untuk menjauh dari para pria tadi sebelum peduli terhadap orang-orang disekitarnya. Ia menggunakan seluruh keukuatannya untuk melakukan hal itu, dan kemudian, dia punya perasaan bahwa beberapa orang yang tadi dia dorong telah terjatuh, tapi hal itu tidak ada hubungannya dengan situasi Riku sekarang.

“Untuk sekarang, aku harus menjauh!”

Ia dengan cepat menggerakkan kakinya.

Tapi meski begitu, Riku adalah seorang anak yang dikejar oleh sekumpulan orang dewasa. Tentu saja dia percaya diri dengan kemampuan fisiknya. Tapi masalahnya adalah Riku sendirian sementara ada tiga orang yang mengejarnya. Terlebih lagi, Riku sekarang sedang kelaparan dan tidak bisa menggunakan kekuatannya sama sekali. Dia tidak bisa memikirkan cara untuk menang.

Namun, jika ia berhenti berlari, dia akan tertangkap. Memikirkan cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri, ia mulai melihat ke sekelilingnya. Dan kemudian, dia melihat beberapa tong besar didepannya. Tong yang lebih besar dari postur tubuhnya.

“Kalau aku menggunakan tong itu, mungkin akan berhasil. Ya, kalau sebanyak itu, harusnya bisa ntah bagaimana.”

Riku bergegas menuju kesamping tong-tong besar itu.

Melihatnya dari dekat, tong-tong itu cukup besar sehingga bahkan jika Riku membuka lengannya lebar-lebar, ia tetap tidak akan mampu membawanya.

Meski begitu, entah bagaimana Riku mampu mengangkat tong tersebut. Memang berat, tapi tidaklah sampai titik dimana Riku tidak mampu mengangkatnya. Ia sepertinya mendengar suara isi tong tersebut berguncang, tapi meski begitu, dia tidak peduli. Dia tidak punya waktu untuk melakukan hal itu. Orang-orang yang mengejarnya, sekarang semakin dekat dengannya.

“Makan... INI!!”

Riku melempar tong tersebut dengan seluruh tenaganya.

Riku membuat tong itu terjatuh walaupun banyak orang yang lalu lalang dan tong itu membuat suara ledakan. Wine didalam tong itu menghujani para pejalan kaki.

[TL Note: Wine minuman yang dibuat dari anggur yang difermentasi.]

Hal itu terjadi dengan sangat cepat, sehingga bukan hanya orang-orang yang mengejarnya, tapi orang-orang yang berjalan di jalan pun terkejut karenanya.

“Waah!?”

“Apa yang kau lakukan!? Itu berbahaya!”

“Siapa yang melakukan semua ini?!”

Dia tidak punya waktu untuk terlibat dalam kekacauan di belakangnya.

Tanpa melihat ke belakang, ia sekali lagi mulai melarikan diri

Berlari dan berlari dan kemudian...

“Aku... sudah nggak kuat... lari…”

Pandangannya bergoyang dengan keras.

Dan kemudian, seperti itulah, dia terjatuh.

Menimbulkan suara, dia terjatuh ke sampah di sebuah gang kecil. Bau busuk dan bau alkohol dari tempat itu membungkus dirinya karena ia tidak bergerak.

Walau dalam keadaan seperti itu, dia tidak melakukan apapun untuk keluar dari tempat itu. Kakinya tidak bisa lagi berlari karena kelelahan dan menimbulkan rasa sakit. Perutnya kosong dan tenggorokannya kering.

Karena caranya berlari dan melempar tong itu, semua kekuatannya yang tersisa telah ia gunakan.

Satu-satunya takdir bagi anak yatim piatu yang lelah dan kelaparan hanya satu.

Sebagai orang yang dibuang dari masyarakat, dia akan mati dalam diam.

“Ahh... Pada akhirnya, aku akan mati...”

Dengan pipi yang menyentuh tanah yang dingin, Riku mulai berpikir tanpa tujuan.

...Dan perutnya membuat suara yang keras.

Riku bertanya kepada dirinya sendiri sudah berapa hari sejak dia dibuang ke laut. Riku tidak tahu akan hal itu, tapi ia tahu satu hal dengan pasti yaitu ia tidak mampu memakan makanan apapun dalam waktu yang lama.

Di kota ini berkumpul beberapa jenis orang yang kejam, hanya bagian luar dari kota pelayaran Perikka yang indah, tidak ada hal seperti bangsawan yang berbuat baik kepada orang lain. Sebenarnya, lebih banyak orang yang akan menendang anak semacam Riku. Ditendang tentu saja menyakitkan.

Tapi fakta bahwa ia telah dibuang oleh ayahnya adalah hal yang paling menyakitkan.

Dia tidak bisa menggunakan kekuatan spiritualist, oleh karena itu dia diusir sebagai seseorang yang tidak dibutuhkan. Begitulah cara hubungan ‘Ayah dan Anak’ Riku dengan ayahnya berakhir. Memikirkan hal itu, ia merasakan rasa sakit seakan-akan hatinya telah dimakan habis.

Diluar Riku dipenuhi oleh luka, begitu pula didalam. Hal itu sangat menyakitkan, terlalu sakit sehingga ia merasa tersiksa.

“Kalau ini yang akan terjadi mulai dari sekarang, mungkin mati akan menjadi sesuatu yang lebih baik. Tapi... Seperti yang kuduga, itu menakutkan...”

Bahkan walau tak ada yang akan menyelamatkannya, ia melihat ke atas. Di atas sana, ada langit yang bercahaya tanpa satu awan pun.

“Indah sekali.”

Gumamnya.

Di tidak tahu kenapa.

Langit itu... Langit itu seakan-akan menerbangkan warna abu-abu yang kotor dari jalanan. Itu karena langit adalah langit biru yang bersinar terang.

Ia mulai berpikir bahwa dunia ini indah.

Tanpa ia sadari, air mata mulai mengalir ke pipinya.

Tanpa ada suara apapun, air mata itu dengan tenang mengalir.

“Kalau aku mati dibawah langit yang seindah ini... Itu sudahlah cukup.”

Langit yang indah itu membuatnya lupa gang kecil yang kotor dan berbau alkohol itu serta membuat semua rasa sakit di tubuh dan hatinya menghilang. Jika itu adalah langit itu, maka langit itu sudah pasti merangkul dan menerima apapun.

Ya, dengan menutup kedua matanya disini... Riku yakin ia bisa mati dengan perasaan yang tenang.

Tapi meski begitu, Riku tidak bisa menutup matanya.

Di suatu tempat di dalam hatinya, sesuatu memanggilnya.

Bahkan walau itu hanyalah sementara.

Bahkan walaupun hal itu terasa seakan-akan ingin menghilang, tapi ia tetap menantikan harapan yang hampir hilang itu.

Dalam kenyataan yang menyakitkan itu, sangat jelas kalau sekarat dengan tenang lebih baik. Tak ada seorang pun yang akan menyelamatkan Riku; tak ada seorangpun yang akan mendapatkan keuntungan dengan melakukan hal tersebut.

Seseorang yang tidak mempu melakukan apapun lebih baik mati saja.

“Meski begitu, aku masih tidak ingin menyerah sama sekali.”

Riku mengangkat tangannya.

Memberikan setiap tetes tenaga terakhir yang ia punya, Riku memanjangkan tangannya ke langit yang indah itu.

Jika ia mampu menggenggam sesuatu di langit itu, ia merasa ia akan mendapatkan harapan. Itu adalah sesuatu yang sangat lucu hingga ke titik dimana setiap orang akan memegang perut mereka karena tertawa. Tapi meski begitu, ia punya perasaan bahwa hal itu nyata.

Tentu saja, tangan itu tidak menggenggam apapun.

Menggunakan seluruh kekuatannya, dalam bentuk busur, tangannya pelan-pelan jatuh ke tanah


Atau itulah yang seharusnya terjadi.


loading...