Sunday, 11 September 2016

Katahane no Riku Chapter 1 Bahasa Indonesia



Translator: Exicore


Chapter 1: Hari Dimana Sebuah Perlengkapan Telah Hancur


“Riku, putriku tersayang. Cepatlah tenggelam dan jadilah makanan iblis.”

Ayah Riku membawa Riku dengan memegang kerah bajunya.

Tanpa bisa menyentuh tanah, tindakan menggerak-gerakkan kakinya menjadi sia-sia. Ayahnya dengan tenang berjalan, semakin dekat ke ujung tebing yang curam. Itu bukanlah tebing curam biasa; tapi tebing yang sangat curam karena sering dikikis oleh lautan yang mengamuk. Ombak bergelora yang meledak di tepi tebing terlihat seakan berkata. “Cepatlah datang. Kemudian segeralah jatuh.” Itu merupakan pemandangan yang sangat menakutkan.

Riku melihat ke arah ayahnya.

“Ayah?”

Ayahnya memberikan senyum yang terlihat seakan-akan ia sedang memiliki suatu masalah.

Bahkan walau ayahnya sudah kelewatan sekarang, ayahnya dulunya sangat baik kepada Riku. Tentu saja, ayahnya tidak mengabaikan pelatihan spiritual. Tak peduli seberapa hebat Riku dalam menggunakan tombak, tak peduli seberapa jauh ia berkembang dalam permainan berpedang, jika ia tidak mampu menggunakan teknik untuk menyuntikkan kekuatan pemusnah iblis, ia akan dipukuli. Riku akan dicambuk, dan dipukuli dengan pedang pengusir iblis. Hal itu sangat menyakitkan sehingga Riku tidak mampu menahannya. Riku sangat tidak suka saat ia direndahkan.

“Kalau begini terus pada akhirnya aku akan jatuh!”

Meski begitu ayahnya biasanya sangat baik.

Riku tahu ayahnya tidak menaruh makanan yang tidak ia suka di meja makan saat mereka makan karena memperhatikan dirinya. Bahkan saat Riku memecahkan sebuah vas bunga, ayahnya hanya tersenyum dan memaafkannya. Saat ia menginginkan sesuatu, ayahnya akan membelinya untuknya. Ayahnya juga akan memberinya pakaian yang cantik sebagai hadiah. Saat Riku berumur lima tahun, yaitu saat ibunya mati karena penyakit, ayahnya menenangkannya. Ayahnya menjadi lebih berperasaan dan bahkan mengurangi waktu latihannya.

Ya, ayah Riku sangat baik kepadanya... Atau setidaknya, begitulah semua hal seharusnya berjalan. Karena tidak mungkin ayah yang seperti itu akan bertindak seperti ini. Tidak lama Riku menjadi putus asa dan terus melihat ke arah ayahnya.

“Tapi Riku adalah anak yang tidak berguna. Karena itulah Riku akan jatuh.”

Kata ayahnya, memotong semua harapannya menjadi separuh.

Riku sudah menyadarinya. Walaupun senyum terlihat di wajah ayahnya, matanya tidak tersenyum. Mata itu sangat mirip dengan yang ayahnya perlihatkan saat mereka sedang latihan. Mata yang menunjukkan sifat dingin yang luar biasa.

“Bahkan walau Riku telah mencapai usia tujuh tahun, Riku tidak bisa menggunakan teknik spiritualist sama sekali. Sederhananya tidak memiliki bakat. Anak tanpa bakat hanya mempermalukan nama keluarga Barusak. Karena itulah Riku tidak dibutuhkan.

“Tapi...”

Warna menghilang dari pandangan Riku.

Ayahnya mengatakan bahwa ia tidak dibutuhkan. Ayahnya mengatakan kepadanya bahwa ia tidak punya bakat. Kalau begitu, apa yang harus ia lakukan mulai sekarang? Diusir dari rumahnya sendiri, bagaimana ia akan terus bertahan hidup? Seperti ingin memeluk, Riku mulai melekat pada lengan ayahnya.

“A-ayah! A, aku akan berusaha lebih keras! Jadi, aku mohon biarkan aku tinggal! Tolong, jangan buang aku, yah!”

“Riku.”

Ayah Riku mulai mengelus kepala Riku dengan tangannya yang bebas.

Seakan-akan menyayanginya, ayahnya mengelus kepalanya. Rambutnya berwarna merah seakan terbakar. Riku tidak terlalu suka saat ayahnya mengelus rambutnya. Bukannya ia tidak suka karena rambutnya berwarna merah. Lebih tepatnya, ia hanya tidak bisa terbiasa dengan cara ayahnya melakukannya. Rasanya seperti ayahnya hanya melihat kepada subjek penelitian; rasanya sangat menakutkan.

Tapi sekarang, ia tidak bisa mengecewakan ayahnya dalam cara apapun. Karena itulah ia berusaha dengan keras menanggung ketidaknyamannya.

“Faktanya sudah dipastikan. Rook yang berusia empat tahun sejak dulu sudah mampu menyuntikkan kekuatan pemusnah iblis. Orang yang tidak bisa melakukan hal paling dasar hanya kamu, Riku. Dan juga ayah selalu merasa tidak suka dengan rambutmu. Itu membuat ayah muak.

Ayahnya melepaskan lengan kurus yang melekat di lengannya.

Normalnya, hal itu seharusnya tidak cukup untuk membuatnya melepaskan pegangannya. Tapi Riku sangat terkejut karena ayahnya. Bahkan dengan kekuatannya yang tidak terbayangkan, tidak mungkin baginya untuk tetap bergantung di lengan ayahnya.

Rambut berwarna merahnya memang benar sesuatu yang aneh. Kedua orang tuanya dan kedua keluarga mereka, bahkan kakak perempuan serta adik laki-lakinya, tidak ada yang memiliki rambut berwarna merah. Hanya Riku yang memilikinya. Rambutnya tidak terlalu disukai, tapi meski begitu, untuk ayah tercintanya dengan terbuka menyetujui sesuatu seperti itu ia tidak pernah menduga itu akan terjadi.

“Selamat tinggal, Riku. Jangan pernah muncul lagi di depan rumah keluarga Barusak.”

Dan dengan kata terakhir itu, Riku dibuang.

Untuk sementara, ia merasa seakan ia mengambang, tapi tepat setelah itu, ia mampu mendengar suara angin memotong melewatinya.

Riku dengan cepat mendekati lautan yang mengamuk. Ombak hitam terlihat seakan mengundangnya, berkata: “Kemarilah, datanglah kemari.” Tak lama setelah dia jatuh ke bawah, ia dengan kerasnya dilanda oleh ombak. Seluruh penglihatannya dipenuhi oleh gelembung dan gerakan dari ombak menghancurkan tubuhnya.

Dalam keputusasaan, Riku berusaha keluar dari ombak.

“Ay... A... *Cough*, *cough*... Ayah!”

Jauh, dipuncak tebing, ia bisa melihat bayangan seseorang.

Seperti sedang mencari pengampunan, ia memanjangkan tangannya. Tapi kemudian, ombak berikutnya datang dan mengenainya. Ombak besar itu akan membawa pergi Riku kecil. Semua yang bisa dia lakukan adalah berusaha untuk bertahan

≡≡≡≡≡≡≡

Ada seorang pria yang melihat Riku menghilang kedalam ombak berdiri sangat tinggi diatas.

Dia adalah ayah Riku, Raimon Barusak.

Menggunakan jaket yang memiliki lambang kebanggaan keluarga Barusak, ia melihat ke bawah ke arah Riku. Didalam lautan yang mengamuk, tangan putih kecil dapat samar-samar terlihat, tapi ombak besar kemudian menimpanya, yang membuatnya tidak bisa lagi dilihat. Rambut merah yang menarik mata tidak bisa lagi ditemukan dimanapun.

“Jadi, pada akhirnya tidak ada sesuatu seperti kekuatan tersembunyi? Ternyata itu memang hanya harapan yang sia-sia.”

Rambut merah yang jarang dilihat di negara ini dan kekuatan yang tak terbayang untuk anak berusia 7 tahun.

Bila bukan karena alasan itu, ia pasti akan mengusir Riku Barusak lebih cepat. Raimon sudah tahu bahwa Riku tidak memiliki bakat apapun dalam teknik spiritualist saat Riku berusia lima tahun. Tidak diketahui oleh Riku, faktanya, ibunya dibunuh pada waktu itu sebagai seseorang yang tidak berguna yang melahirkan orang yang tidak punya kekuatan.

“Kalau begitu, ayah... Kenapa ayah tidak membunuhnya lebih cepat?”

Dibelakang raimon, bayangan kecil muncul.

Bocah berambut perak yang mana salah satu matanya tertutup oleh rambutnya melihat kearahnya. Raimon dengan ramah menepuk kepala bocah itu.

“Itu karena ada kemungkinan mahkluk itu memiliki kekuatan khusus.”

“Kekuatan khusus, kata ayah? Aku tidak pernah melihat kakak mampu mencapai apapun.”

Bocah itu bingung.

Melihat tingkah bocah itu, Raimon membantah dengan menggelengkan kepalanya.

“Warna rambut mahkluk itu merah, benar bukan?”

“Ya, merah.”

“Ada mitos yang mengatakan bawha rambut merah yang tidak mengikuti kedua orang tuanya memiliki kekuatan tersembunyi. Lagipula... Kekuatan otot mahkluk itu tidak normal.”

Raimon menyipitkan matanya.

Rambut merah yang dirumorkan memiliki kekuatan tersembunyi...

Dan lengan kecil Riku yang mampu dengan mudah menangani sebuah tombak yang kelihatannya tidak bisa digerakkan dan pedang dua tangan, meskipun sesuatu seperti itu seharusnya tidak mungkin. Bahkan saat mengangkat pot yang kelihatannya membuat orang dewasa berusaha sedikit keras untuk mengangkatnya, baginya, tak ada sedikitpun tanda-tanda kelelahan terlihat. Seakan sudah diperkirakan, Riku hampir mampu mengangkat hampir seratus dari pot itu. Meskipun pada akhirnya, ia membiarkan pot itu tergelincir dan memecahkan itu semua, untuk anak berusia tujuh tahun yang normal, jangankan seratus, mengangkat dua atau 3 sesuatu seperti itu akan menimbulkan kejadian yang sama.

“Mahkluk itu tidak normal.”

“Meski begitu, pada akhirnya kakak tidak memiliki kekuatan spiritualist sama sekali.”

Kepada respon Rook, Raimon mengangguk setuju.

Riku sudah jelas tidak normal.

Tapi meski begitu, ia tidak punya kekuatan spiritualist apapun.

Rook yang berusia empat tahun, yang nantinya akan menjadi penerus keluarga Barusak, sudah mulai membedakan dirinya dari spiritualisst lain. Bahkan walau dalam kecelakan yang hampir mustahil sesuatu terjadi pada Rook, maka menikahkan Raku yang berusia lima belas tahun kepada seseorang akan menyelesaikannya. Dengan kata lain, dibandingkan dengan pengguna kekuatan pemusnah iblis, Riku hanya dengan kekuatan anehnya tidak terlalu diperlukan.

“Walaupun ayah berpikir kalau kemampuan asli dari kekuatannya akan terlihat dengan sendirinya saat ia sedang sekarat... Rook, kamu harus mengabdikan dirimu dengan benar sebagai penerus dari Keluarga Barusak. Kamu tidak boleh menjadi tidak berguna sepertinya. Sebagai keluargamu, ayah menempatkan kepercayaan ayah kepadamu.”

“Ayah, itu artinya.”

Rook menggenggam tangan besar Raimon

Dan kemudian, membuat wajah sedih

“Berkata seperti itu, bukankah itu terdengar seperti aku lebih rendah daripada kakakku?”

“Tidak, Kamu telah berusaha dengan benar. Meskipun kamu masih berusia empat tahun, kamu bahkan mampu mencapai ranah yang secara teori bahkan ayah tidak mampu gapai. Tak diragukan lagi, kamu adalah jenius yang hanya lahir seribu tahun sekali. Tentu saja... Itu bukanlah tingkatan yang bisa dibandingkan dengan mahkluk itu. Ayah berharap banyak padamu.”

“Ya.”

Memutar badannya dari tebing, Raimon pergi bersama dengan anaknya yang akan menjadi penerusnya.

Rook, entah kenapa merasa kesepian, melihat kembali ke arah tebing. Kemudian, dengan suara yang sangat kecil sehingga bahkan Raimon, yang berjalan disampingnya, tidak mampu mendengarnya, ia berkata.

“Jika ia sedikit lebih cantik, aku mungkin akan menyelamatkannya... Tapi bahkan walau aku menyelamatkannya, ia tidak akan bisa membantu terlalu banyak dalam kejadian itu nantinya.”

“Apakah kau mengatakan sesuatu, Rook?”

“Tidak, bukan apa-apa. Tapi mengesampingkan hal itu, ayah, aku punya sesuatu yang ingin aku bicarakan mengenai pembagian wilayah kekuasaan. Tentang tanah di daerah kekuasaan kita yang seharusnya diberikan kepada kakak perempuanku, bisakah itu diberikan kepadaku?”

“Bidang tanah itu? Ayah tidak menolaknya... Tapi tanah itu bahkan tidak bisa digunakan utnuk menanam padi, kamu tahu?”

“Tidak ada masalah. Aku sudah berusia empat tahun. Aku bisa mengurus daerah kekuasaan dengan benar. Sebagai penerus dari keluarga Barusak, demi rakyat kita, dan juga demi posisi kita sebagai spiritualist, aku akan mengabdikan diriku sepenuhnya.”
(Editor note: 4 tahun dan pengen melakukan hal itu?? Hmmn...)

Melihat senyum cerah Rook, Raimon lega.

Ia adalah penerus yang sangat bisa diandalkan. Untuk bagian mengurus wilayah kekuasaan maupun bagian spiritualist, keluarga Barusak akan aman. Untuk Rook yang terlalu sempurna, Raimon memutuskan untuk memberikan segala hal miliknya untuk membesarkan Rook.

Itu adalah hal yang hati Raimon putuskan.

Dan untuk kakak perempuan bodoh dari Rook yang terlalu sempurna... Nama dari Riku Barusak akan dihapus dari sisilah keluarga.

Tak ada seorangpun yang mengomentari hal yang terjadi pada Riku.

Sudah jelas para pelayan tidak akan melakukannya, tapi hal yang sama juga berlaku kepada sesama ahli dalam seni pemusnahan iblis yang dulunya pernah memberi selamat kepada orang tua Riku saat Riku lahir, dan bahkan kakak perempuan dan adik laki-lakinya yang masih ada; semua orang telah melupakan keberadaan Riku. Aib dari keluarga Barusak; sebagai seseorang yang tidak memiliki bakat sebagai spiritualist, keberadaan Riku adalah sesuatu yang akan merusak pemandangan.

Sebenarnya, jumlah orang yang dengan senangnnya tertawa dibelakang tentang hilangnya Riku lebih banyak.

Di tahun yang akan datang, mengenai kejadian ini, satu-satunya hal yang Raimon Barusak katakan di buku sejarah militer dar spiritualist adalah:


“Menjatuhkan mahkluk itu dari tebing... Betapa bodohnya aku. Jika saja aku membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri pada waktu itu.”

loading...