Saturday, 17 September 2016

Isekai ni Tensei Shitandakedo Ore, Tensai tte Kanchigai Saretenai? Chapter 1 Bahasa Indonesia


Translator: Ernesta Yuki
Editor: Lord D
Proofreader: Ise-kun 

Chapter 01 - Mencari Tahu Situasi

"Selamat! Dia bayi laki-laki yang sehat!"

Di saat pengelihatanku kembali, Aku pikir aku mendengar sesuatu seperti itu. Huh? Eh, Apa? Aku melihat ke sekeliling dengan panik... Di atasku ada kepala lampu bedah, dan dibawahku terletak lantai linoleum. Seorang perempuan dengan pakaian bedah...Rumah sakit, ruang operasi? Jadi aku dalam keadaan "vegetatif".

(TL Note : Linoleum adalah bahan pelapis lantai yang terbuat dari minyak biji flax (linseed oil) dicampur dengan tepung kayu atau serbuk gabus dengan backing dari kain berserat kuat atau kanvas. Sering dipakai sebagai bahan cetakan dalam seni grafis dengan teknik yang sama dengan cukil kayu.)

Apakah aku bangun untuk yang pertama kalinya sejak kecelakaan itu? Kenapa aku merasa diangkat? Apakah perempuan ini begitu kuat sehingga bisa mengangkat pria dewasa sepertiku? Oh tidak... Jangan bilang...

Imajinasi terburuk melintasi pikiranku.

Jangan bilang...Aku kehilangan anggota tubuhku selama kecelakan itu? Tentunya itu akan membuat tubuh manusia jauh lebih ringan... Jangan-jangan ini... Ouch! Hey, apa yang kau lakukan, sakit oi! Hei, perempuan tua! Kenapa kau menampar bokongku?! Hentikan sebelum aku yang menghentikanmu!

"Dokter, bayinya, dia tidak memberikan respon"

Aku bisa mendengar suara dari perawat (menilai dari suaranya mungkin setengah baya) yang terus menampar bokongku. Aku tidak punya hobi untuk merespon ke tamparan bokong dari seorang perempuan tua! Dokter perempuan selain dia juga menatap ke arahku sambil memberikan arahan.

Apa-apaan itu!! Apa ini! Aku sibuk mencari tahu situasiku saat ini!

Sekarang Dokter perempuan itu mulai menampar bokongku juga. Oh Sial... Aku mulai berpikir kalau ini lumayan juga... Tidak, tidak, tenang, diriku, tenang. Itu tidak benar. Sementara itu, mereka tidak berhenti menampar bokongku. Oke... aku mengerti...

"Ogaaaa! Ogaaaaaaaa! (Aku bilang Aku mengerti, sialan!)"

Kemungkinan itu sangat tidak ilmiah, itulah kenapa aku gagal untuk mencari tahu di ruang yang menenangkan itu. Ini sesuatu yang sangat tidak masuk akal yang ku pikir hanya ada di novel atau dongeng.

Sepertinya, Aku bereinkarnasi.

"Ini nyonya, gendong dia di tangan anda"

Dokter perempuan menyerahkan aku yang kecil ke perempuan yang aku anggap adalah ibuku. Hey, pegang aku dengan lembut! Pegang aku seperti kau memegang anak ayam yang baru lahir! Jangan memegangku dengan begitu kuat! Ah, ini baru pantas! Hmmm....Perempuan ini...orang ini ibuku? Dia tidak terlalu cantik, atau jelek, dia hanya perempuan normal. Tapi entah kenapa, dia tampak bahagia. Yah, karena dia memegang anaknya sendiri, nggak mungkin seorang perempuan menggendong anaknya dengan memperlihatkan wajah muram, kan?

Hmm?

Sepertinya dia terlihat bingung?

Aaaaah, dia khawatir karena aku tidak memberikan respon.

Apa yang harus kulakukan, Aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan di situasi seperti ini. Ok, mari coba dengan tersenyum...

"Kyah, kyah"

Oh, dia tersenyum! Ibuku tersenyum! Sepertinya aku membuat langkah yang benar. Tapi apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tahu tidak ada gunanya terlalu memikirkan itu, tapi mentalku sudah dewasa, jadi mau gimana lagi. Ngomong-ngomong, bokongku sakit, dan aku lelah sehabis menangis... jadi ayo tidur tidur sebentar.

Aku akan memeriksa sekitarku setelah bangun...

「~~~♪~~~♪」

Aku terbangun karena sebuah suara. Kedengarannya begitu hangat dan nyaman. Rasanya seperti aku kembali ke tempat yang menenangkan... Jadi begitu! Itu ada dalam rahim ibuku...

Aku paham, tak heran rasanya begitu nyaman. Itu adalah tempat khusus hanya untuk ku. Hmm? Aku masih bisa mendengar suara itu. Saat aku membuka mataku, Aku bisa melihat ibuku menggendongku dengan senyum lembut, menyanyikan lagu. Apa ini... Bahasa Jerman? Pengucapan yang buruk, tapi masih dapat dipahami. Ini lagu nina-bobok (TL Note : pengantar tidur), atau sesuatu seperti itu. Apa dia tau lagu itu, atau dia mempelajarinya untuku...? Aku tidak bisa berterima kasih juga tidak bisa memberi tepuk tangan, jadi aku hanya akan tersenyum padanya.

「Kyah ♪ Kyah♪」

Bagus! Lihat senyum bahagia itu! Lihat itu? Dia terlihat bahagia. Untuk saat ini, aku akan tersenyum saja kalau sesuatu terlihat tidak baik. Sebuah senyum dapat membuat seseorang melewati banyak hal! ... Atau setidaknya aku berharap seperti itu.

Setelah mendengar sedikit lagu nina-bobok dari ibuku, Aku mendengar ketukan. Hmm...Sepertinya kami sedang berada dalam ruangan pribadi. Membiarkan bayi yang baru lahir di sebuah ruang pribadi dengan ibunya, itu bukan sesuatu yang mampu kau lakukan setiap hari. Ini mungkin berarti kalau aku lahir di sebuah rumah yang stabil secara keuangan. Dunia tidak hanya tentang uang, tapi tidak ada salahnya memiliki lebih.

Jadi, siapa pria tua ini? Sok deket banget gitu denganku terus memeluku dengan kasar...Oi, itu sakit. Aduh!

Hey, kau tak seharusnya memperlakukan anak yang baru lahir seperti ini! Lihat, sekarang kau membuat ibuku marah. Oh, jangan murung seperti itu. Berapa banyak shock yang kau dapat hanya karena dimarahi ibu? Dinilai dari percakapannya, sepertinya orang ini adalah ayahku. Sepertinya dia datang sebelumnya, tapi aku masih tidur. Maafkan aku, ayah. Nah karena ayah menggendong ku, Aku akan memberikan servis sementara aku disini, aku akan menggosokan wajahku ke sekitar dasinya. Woooo, lihat betapa bahagianya dia, sekarang dia mulai memeluku lagi. Hentikan! Itu sakit. Aduh. Ibu, ini sakit! Tolong!

[Ogaaaa! Ogaaaaaaa!!]

Aku membuat-buat sebuah tangis kesakitan. Ayah menyedihkan itu dimarahi ibu lagi. Hah, pembalasan yang setimpal. Tapi sial, badan ini sungguh tak bertenaga... Aku tertidur lagi setelah sedikit menangis...Aku harus mencoba tetap bangun untuk beberapa saat la...gi...

--------Sudut Pandang : Arakawa Miki---------

Setelah aku hamil, Aku selalu merasa khawatir. Bukan karena aku akan menjadi ibu, tapi apakah aku bisa melahirkan atau tidak. Sebenarnya, Aku tidak bisa berharap untuk mendapat kehamilan dengan kondisi tubuhku ini. Kalau memakai teknologi 30 tahun sebelumnya, itu jelas tidak mungkin. Tapi dengan teknologi mutakhir saat ini, bisa membuatnya jadi mungkin. Aku berkonsultasi dengan suamiku, Shuuichi-san beberapa kali. Dia bilang padaku dia tidak menginginkan seorang anak, yang dia perlukan hanyalah aku berada di sisinya...Aku sangat senang sampai menangis, tapi meski begitu, aku masih ingin menanggung buah cinta kami.

Aku memaksa permintaanku kepada Shuuichi-san, untuk mencoba teknologi mutakhir dan hasilnya, Aku bisa melabuhkan kehidupan dalam diriku. Aku diberkahi begitu banyak, karena perutku semakin membesar dari hari ke hari, Kadang-kadang aku mendapati diriku mengelus perut tanpa sadar. Dan hari ini, akhirnya anakku lahir. Saat itu setelah Aku mengalami persalinan dan melahirkan Kouki, Aku begitu terkejut.

"Dokter, bayinya, dia tidak menanggapi"

Si perawat, Takigawa-san menampar pantat Kouki dengan putus asa, tapi Kouki tetap tidak menanggapi. Aku hampir bisa merasakan udara di ruang operasi ini semakin tebal.

"Dokter! Kumohon, kumohon selamatkan anakku, selamatkan Kouki!!!"

Apakah aku sudah mengatakan hal itu dengan benar? Mungkinkah aku tidak bisa bicara dengan baik karena panik dan takut kehilangan Kouki? Di saat dokter mendekati Kouki dan menampar bokongnya, dia mengeluarkan suaranya untuk pertama kalinya. Aku merasa kesadaranku memudar karena kelegaan dan kelelahan, tapi aku tidak boleh pingsan sebelum aku menggendong anakku di tanganku.

"Ini nyonya, gendong dia dengan tangan anda"

Aku menggendong Kouki untuk pertama kali... dan lagi, Aku kembali terkejut.

Apa ini... Itu bahkan tidak mirip dengan mata bayi... Rasanya seperti menatap sebuah jurang tak berujung. Mata, tanpa emosi, menatap balik seakan ia sedang memeriksa seekor kelinci percobaan.

Aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri... Aku sudah kewalahan dengan banyak emosi menyakitkan, seakan lubuk hatiku sedang hancur perlahan. Aku hampir saja membuang anakku yang baru lahir karena takut.

"Kyah, kyah"

Kouki tersenyum. Dia tersenyum begitu polos, seolah dia senang melihatku sebagai ibunya. Aku merasa sangat lega, dan disaat yang bersmaan, aku benci diriku sendiri. Sampai beberapa saat yang lalu, aku merasa benar-benar takut dan hatiku merasakan perasaan sakit terhadap anak ini. Setelah aku tersenyum canggung ke arahnya, Kouki tertidur dalam pelukanku. Waktu itu, Aku bersumpah pada diriku.

Bahkan jika seluruh dunia akan melawan Kouki, aku akan melindunginya sampai akhir. Aku tidak akan pernah membiarkan dia menangis.

Aku menyanyikan sebuah lagu dengan Kouki tertidur di dekapanku. Pengantar tidur dengan nada lembut, itu aku pelajari mati-matian demi anak ini. Aku bisa merasakan kecepatan napas Kouki berubah...Sepertinya dia terbangun. Apa aku membangunkannya karena suaraku terlalu keras? Aku bertanya-tanya ketika aku mengubah pandangan ke arahnya.

「Kyah ♪ Kyah♪」

Dia tertawa, seakan memintaku untuk tetap bernyanyi, meskipun dia tidak mungkin mengerti artinya... Jadi Aku menaruh lebih banyak perasaan saat aku terus menyanyi untuknya.

loading...